Antara Penyanyi dan Petani

Leave a Comment
Kepikiran topik ini karena beberapa bulan terakhir sering mendengar radio di pagi hari. Tumben ya dengerin radio. Dalam siaran radio itu ada iklan yang bersifat tidak komersial (iklan sosial kali ya) yang diputar hampir setiap ada jeda siaran.

Sebagai gambaran, iklan tersebut memunculkan penyanyi ternama (iklan dibuat dalam berbagai versi dengan penyanyi berbeda) sebagai pelaku utama. Dalam salah satu versi iklan, memunculkan sang penyanyi yang beralih profesi. Percakapan dalam iklan tersebut mengindikasikan bahwa penyanyi tersebut beralih profesi karena maraknya pembajakan yang menurut mereka menghilangkan pendapatan sehingga mereka harus beralih profesi agar tetap bisa memperoleh pendapatan.
Ya kalau gambaran iklannya kurang jelas dengerin sendiri ya di radio, pagi-pagi.

Yang mau gue bahas bukannya membahas mana profesi yang baik atau buruk. Karena kalau bahas begitu, nanti bisa diserbu yang punya profesi. Walaupun mungkin tulisan ini ada yang beranggapan ke arah sana. Tapi sekali lagi tidak ada tujuan ke arah sana. Tidak ada profesi yang lebih baik atau lebih buruk, semua sama. Setidaknya begitu di mata gue (mata???).

Sebenarnya gue juga gak ngerti awalnya seperti apa dan kenapa terjadi hal seperti sekarang. Gue tidak mau mempermasalahkan kenapa para penyanyi itu menggugat pembajakan. Tapi yang mau munculkan adalah ketika mereka menuntut hal tersebut, mereka tidak melihat bagaimana lingkungan sekitar, bagaimana masyarakat yang lain. Contoh petani. Agak terlambat gue menyadari siapa petani itu sebenarnya, tepatnya setelah memasuki dunia kerja. Kenapa sih gue membandingkan penyanyi dengan petani? Ketika penyanyi menuntut pembajakan tersebut, sebenarnya apa yang mereka tuntut. Jawabannya kreativitas, suara bagus, atau kreasi lagu yang aduhai. Secara nilai/value bagi gue, itu gak ada apa-apanya dengan apa yang dihasilkan petani. Penyanyi bertujuan untuk menghibur. Stigma yang terjadi dalam masyarakat adalah penyanyi dianggap lebih "berkelas" secara profesi dibandingkan petani. Padahal mereka cuma menghibur. Kalau penyanyi tidak ada, toh gak ada pengaruhnya, cuma paling bete. Beda dengan petani, selama ini dianggap sebagai profesi paling rendah. Lulusan pertanian pun bahkan sangat jarang bekerja sebagai petani (bukan gak mau loh). Tapi nilai/value itu sendiri lah yang menyebabkan terjadi seperti itu. Bayangkan jika profesi yang di dunia cuma penyanyi dan petani. Kemudian semua manusia menginginkan menjadi penyanyi karena dibayar lebih mahal. Gue yakin dunia kiamat dengan sendirinya.

Mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung dari apa yang gue tulis hari ini (ide nulis udah dari 3 bulan lalu). Jika saja apa yang sudah dihasilkan petani itu dibayar lebih mahal dibanding dengan suara dari seorang penyanyi, mungkin tidak ada kemiskinan di Indonesia. Entah siapa pun yang mengatur itu semua agar sektor hiburan (dan jasa-jasa lainnya) dianggap lebih mahal dibanding dengan sektor riil (hasil pertanian) sebut saja "K". Yang pasti gue melihatnya, "K" tidak memiliki kemampuan layaknya petani, punya lahan subur dan kemampuan bertani. Tapi di sisi lain, "K" tidak ingin mati kelaparan dan ingin punya segala (biasa nafsu manusia).

Yang ingin gue sampaikan adalah ketika penyanyi itu menuntut pembajakan diberantas tapi tuntut juga donk hasil petani dibayar lebih mahal. Kalau mereka hanya memperjuangkan diri masing-masing buat apa Bhinneka Tunggal Ika ada.
Btw, gue sadar sih tulisan ini ngaco dan mudah-mudah tidak banyak yang mengerti karena ditulisnya tanpa kerangka yang jelas.
Lebih baik beli gabah mahal daripada gak makan.
Lebih baik gak dengerin musik kalau lagunya mahal.

0 comments :

Post a Comment